Cara Menangani Spesimen Darah yang Benar Menurut WHO

Pendahuluan

Kualitas hasil pemeriksaan laboratorium tidak hanya ditentukan oleh metode analisis dan kecanggihan alat, tetapi juga oleh kualitas spesimen yang diperiksa. Spesimen darah yang mengalami hemolisis, kontaminasi, atau penanganan yang tidak sesuai dapat menghasilkan hasil pemeriksaan yang tidak akurat dan berpotensi memengaruhi keputusan klinis.

Sebagai acuan internasional, World Health Organization (WHO) telah menerbitkan berbagai panduan mengenai penanganan spesimen laboratorium, mulai dari proses pengambilan, transportasi, pemrosesan, hingga penyimpanan. Penerapan prosedur yang tepat pada setiap tahapan bertujuan menjaga integritas spesimen sehingga hasil pemeriksaan tetap valid dan dapat dipercaya.

Artikel ini membahas prinsip-prinsip utama penanganan spesimen darah berdasarkan rekomendasi WHO yang dapat diterapkan oleh Ahli Teknologi Laboratorium Medik (ATLM) dan tenaga kesehatan lainnya.

Penanganan Awal Spesimen Darah

Tahap awal setelah pengambilan darah sangat menentukan kualitas spesimen. WHO merekomendasikan agar serum atau plasma dipisahkan dari sel darah sesegera mungkin untuk mencegah perubahan kadar analit akibat metabolisme sel yang masih berlangsung.

Pada pemeriksaan kimia klinik tertentu, seperti fungsi hati, fungsi ginjal, dan hormon, pemisahan serum yang tepat waktu juga membantu mengurangi risiko hemolisis yang dapat memengaruhi hasil pemeriksaan.

Selain itu, pemilihan tabung dan antikoagulan harus disesuaikan dengan jenis pemeriksaan. Penggunaan wadah yang tidak tepat dapat menyebabkan spesimen tidak layak diperiksa atau menghasilkan nilai yang tidak akurat.

Transportasi Spesimen Darah

Transportasi merupakan bagian penting dari fase pra-analitik. Selama pengiriman, suhu, waktu, dan kondisi penyimpanan harus dipertahankan sesuai persyaratan setiap jenis pemeriksaan.

WHO juga mengingatkan agar spesimen terlindungi dari guncangan berlebihan serta menghindari siklus beku-cair (freeze-thaw) yang berulang karena dapat merusak stabilitas analit, terutama pada pemeriksaan virologi dan biologi molekuler.

Pemrosesan Spesimen

Setiap laboratorium harus memiliki Prosedur Operasional Standar (SOP) yang mengatur seluruh proses penanganan spesimen, mulai dari identifikasi pasien, pengumpulan, pelabelan, hingga pemrosesan sebelum pemeriksaan dilakukan.

Pelabelan spesimen harus dilakukan dengan benar menggunakan minimal dua identitas pasien. Kesalahan identifikasi merupakan salah satu penyebab utama kesalahan laboratorium yang dapat berdampak langsung pada keselamatan pasien.

Penyimpanan Spesimen

Penyimpanan spesimen harus disesuaikan dengan jenis pemeriksaan dan stabilitas analit. WHO merekomendasikan penyimpanan serum pada suhu 2–8°C untuk penggunaan jangka pendek, sedangkan penyimpanan jangka panjang memerlukan suhu -20°C atau -70°C, tergantung tujuan pemeriksaan.

Laboratorium juga perlu mendokumentasikan kondisi penyimpanan serta menghindari fluktuasi suhu yang dapat menurunkan kualitas spesimen.

Faktor yang Memengaruhi Kualitas Spesimen

Beberapa kondisi yang paling sering menyebabkan penurunan kualitas spesimen antara lain:

  • Hemolisis akibat teknik pengambilan atau transportasi yang tidak tepat.
  • Kontaminasi selama proses pengambilan atau pemrosesan.
  • Keterlambatan pemisahan serum atau plasma.
  • Penggunaan tabung atau antikoagulan yang tidak sesuai.
  • Penyimpanan pada suhu yang tidak direkomendasikan.
  • Siklus beku-cair yang berulang.

Identifikasi dan pencegahan faktor-faktor tersebut merupakan bagian penting dari pengendalian mutu laboratorium.

Keselamatan Petugas

WHO menekankan bahwa seluruh spesimen darah harus diperlakukan sebagai bahan yang berpotensi infeksius. Oleh karena itu, petugas wajib menerapkan kewaspadaan standar (standard precautions), seperti menggunakan alat pelindung diri, melakukan kebersihan tangan, menangani benda tajam dengan aman, serta membuang limbah medis sesuai prosedur yang berlaku.

Kesimpulan

Penanganan, transportasi, pemrosesan, dan penyimpanan spesimen darah merupakan rangkaian proses yang saling berkaitan dalam menjaga mutu pemeriksaan laboratorium. Kepatuhan terhadap panduan WHO membantu mempertahankan integritas spesimen, mengurangi kesalahan pra-analitik, serta meningkatkan keakuratan hasil pemeriksaan. Dengan didukung SOP yang baik, tenaga laboratorium yang kompeten, dan sistem pengendalian mutu yang konsisten, laboratorium dapat memberikan hasil pemeriksaan yang andal sekaligus mendukung keselamatan pasien.

Referensi

  1. World Health Organization. Health Laboratory Facilities in Emergency and Disaster Situations. Geneva: WHO.
  2. World Health Organization. Laboratory Quality Stepwise Implementation (LQSI) Tool.
  3. World Health Organization. Technical Specifications Series for WHO Prequalification – Diagnostic Assessment (TSS-27).
  4. World Health Organization. Sample Collection Module – Standard Precautions.
  5. World Health Organization. National Laboratory Policy and Sample Referral System Procedure Manual.

Tulisan Kawan Praktisi lainnya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Postingan Rekomendasi