Spesimen Lama vs. Ambil Ulang: Mana yang Tepat Saat Dokter Minta Pemeriksaan Tambahan?

Dalam praktik laboratorium klinik, permintaan add-on test bukanlah hal yang jarang terjadi. Pasien mungkin sudah pulang, tetapi beberapa jam kemudian dokter meminta pemeriksaan tambahan berdasarkan perkembangan kondisi klinis atau hasil pemeriksaan sebelumnya.

Situasi ini sering menimbulkan pertanyaan di laboratorium: apakah spesimen yang masih tersimpan dapat digunakan, atau pasien harus dipanggil kembali untuk pengambilan sampel baru?

Jawabannya tidak sesederhana “boleh” atau “tidak boleh”. Keputusan harus mempertimbangkan mutu spesimen, stabilitas analit, serta kebijakan laboratorium agar hasil yang dilaporkan tetap akurat dan aman bagi pasien.

Mengapa Tidak Semua Spesimen Lama Bisa Digunakan?

Setiap analit memiliki stabilitas yang berbeda. Stabilitas analit adalah lamanya suatu parameter tetap dapat diukur secara akurat selama penyimpanan.

Meskipun tabung darah masih tersedia di laboratorium, bukan berarti seluruh parameter pemeriksaan masih valid untuk dianalisis. Waktu penyimpanan, suhu, jenis tabung, proses sentrifugasi, hingga kondisi spesimen akan memengaruhi kualitas hasil pemeriksaan.

Karena itu, keputusan penggunaan spesimen lama harus selalu mengacu pada SOP laboratorium dan data stabilitas analit yang telah divalidasi.

Apa Kata ISO 15189:2022?

Standar ISO 15189:2022 menegaskan bahwa laboratorium harus memiliki prosedur yang mengatur batas waktu permintaan pemeriksaan tambahan (add-on test) pada spesimen yang sama.

Artinya, setiap laboratorium wajib memiliki kebijakan yang menjelaskan:

  • kapan spesimen masih dapat digunakan;
  • kapan pemeriksaan harus ditolak;
  • serta bagaimana proses dokumentasi dan komunikasi kepada dokter atau unit pengirim.

Pendekatan ini bertujuan menjaga mutu hasil pemeriksaan sekaligus meningkatkan keselamatan pasien.

Faktor yang Harus Dievaluasi Sebelum Menggunakan Spesimen Lama

Sebelum menerima permintaan add-on test, petugas laboratorium perlu mengevaluasi beberapa hal berikut.

  • Jenis pemeriksaan yang diminta.
  • Jenis spesimen (serum, plasma, darah utuh, urine, dan lain-lain).
  • Lama penyimpanan spesimen.
  • Suhu penyimpanan.
  • Kondisi spesimen, misalnya hemolisis, lipemia, bekuan, atau kontaminasi.
  • Stabilitas analit berdasarkan SOP laboratorium atau rekomendasi produsen.

Jika salah satu faktor tersebut tidak memenuhi persyaratan, maka penggunaan spesimen lama sebaiknya tidak dilakukan.

Kapan Spesimen Lama Masih Bisa Digunakan?

Secara umum, spesimen lama masih dapat dipertimbangkan apabila:

  • analit yang diminta masih berada dalam batas stabilitas;
  • penyimpanan sesuai prosedur;
  • kualitas spesimen masih baik;
  • volume sisa mencukupi;
  • serta masih memenuhi kebijakan retensi spesimen laboratorium.

Sebaliknya, jika stabilitas analit telah terlampaui atau kualitas spesimen menurun, maka pengambilan spesimen ulang merupakan pilihan yang lebih aman.

Mengapa Stabilitas Sangat Penting?

Penelitian terbaru yang dipublikasikan dalam Biochemia Medica (2024) menunjukkan bahwa tidak semua analit memiliki stabilitas yang sama.

Beberapa parameter seperti glukosa, kalium, AST, LDH, dan fosfat mengalami perubahan lebih cepat dibandingkan analit lainnya. Sebaliknya, sebagian besar parameter biokimia rutin tetap stabil lebih lama apabila disimpan sesuai prosedur.

Temuan ini menunjukkan bahwa keputusan menerima add-on test tidak boleh hanya berdasarkan lamanya spesimen disimpan, tetapi juga harus mempertimbangkan karakteristik masing-masing analit.

Bagaimana Jika Spesimen Tidak Bisa Diulang?

Terdapat kondisi tertentu di mana spesimen sangat sulit atau bahkan tidak mungkin diambil kembali, misalnya:

  • cairan serebrospinal (CSF);
  • biopsi jaringan;
  • spesimen FNAB;
  • atau cairan tubuh tertentu.

Pada kondisi seperti ini, laboratorium perlu berkoordinasi dengan dokter penanggung jawab untuk mengevaluasi manfaat klinis dibandingkan risiko penurunan kualitas spesimen.

Jika pemeriksaan tetap dilakukan, laboratorium sebaiknya memberikan catatan atau disclaimer bahwa hasil harus diinterpretasikan dengan mempertimbangkan keterbatasan spesimen.

Langkah Praktis Menghadapi Permintaan Add-On Test

Saat menerima permintaan pemeriksaan tambahan, laboratorium dapat mengikuti langkah berikut:

  1. Identifikasi pemeriksaan yang diminta.
  2. Periksa waktu pengambilan dan kondisi penyimpanan spesimen.
  3. Evaluasi stabilitas analit sesuai SOP.
  4. Tentukan apakah spesimen masih layak digunakan atau perlu pengambilan ulang.
  5. Dokumentasikan seluruh proses dan komunikasi dengan dokter atau unit pengirim.

Pendokumentasian ini merupakan bagian penting dari sistem manajemen mutu laboratorium sesuai ISO 15189:2022.

Kesimpulan

Keberadaan spesimen di laboratorium bukan berarti spesimen tersebut masih layak digunakan.

Keputusan menerima atau menolak permintaan pemeriksaan tambahan harus didasarkan pada stabilitas analit, kualitas spesimen, prosedur penyimpanan, dan kebijakan laboratorium.

Apabila terdapat keraguan terhadap kualitas spesimen, pengambilan ulang merupakan pilihan yang lebih aman dibandingkan melaporkan hasil yang berpotensi menyesatkan. Pada akhirnya, tujuan utama laboratorium bukan hanya menghasilkan hasil pemeriksaan, tetapi memastikan bahwa hasil tersebut benar-benar merepresentasikan kondisi pasien dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.

Tulisan Kawan Praktisi lainnya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Postingan Rekomendasi