Flebotomi pada Neonatus dan Bayi: Prosedur Kecil dengan Risiko Besar

Pendahuluan

Flebotomi adalah prosedur pengambilan darah untuk pemeriksaan laboratorium yang berperan penting dalam diagnosis, pemantauan kondisi pasien, serta evaluasi terapi. Pada neonatus (bayi usia 0–28 hari) dan bayi, pemeriksaan darah sering dilakukan untuk menilai kadar bilirubin, glukosa, elektrolit, tanda infeksi, hingga kondisi hematologis (Üniversitesi et al., 2020)

Meskipun terlihat sederhana, flebotomi pada neonatus dan bayi membutuhkan perhatian khusus. Secara biologis, tubuh bayi memiliki volume darah yang jauh lebih sedikit dibanding orang dewasa, pembuluh darah berukuran kecil, serta sistem fisiologis yang masih berkembang. Kondisi ini menyebabkan prosedur pengambilan darah memiliki risiko lebih tinggi apabila tidak dilakukan secara tepat (Aryani, n.d.)

Mengapa Flebotomi pada Bayi Sering dilakukan?

Beberapa alasan medis dilakukannya flebotomi pada neonatus dan bayi antara lain:
• Skrining gangguan metabolik bawaan
• Pemeriksaan kadar bilirubin pada ikterus neonatorum (bayi kuning)
• Evaluasi infeksi atau sepsis neonatal
• Pemeriksaan kadar gula darah pada hipoglikemia
• Penilaian anemia atau gangguan pembekuan darah
• Pemantauan bayi prematur di ruang perawatan intensif
Pada bayi yang dirawat di NICU (Neonatal Intensive Care Unit), prosedur ini dapat dilakukan berulang sesuai kebutuhan klinis.

Aspek Biologis yang Perlu Dipahami

Volume Darah Bayi Sangat Terbatas
Volume darah neonatus berkisar sekitar 80–90 mL/kg berat badan, sedangkan bayi prematur dapat memiliki volume lebih rendah. Sebagai contoh, bayi dengan berat 2,5 kg hanya memiliki total darah sekitar 200–225 mL. Kehilangan darah dalam jumlah kecil sekalipun dapat berdampak signifikan terhadap kondisi hemodinamik.

Pembuluh Darah Lebih Kecil dan Rapuh
Ukuran vena pada bayi lebih kecil sehingga proses venipunktur menjadi lebih sulit. Dinding pembuluh darah juga lebih sensitif sehingga mudah mengalami trauma, memar, atau infiltrasi.

Sistem Regulasi Tubuh Belum Matang
Neonatus, terutama prematur, masih memiliki kemampuan terbatas dalam menjaga suhu tubuh, keseimbangan cairan, dan respons stres. Prosedur invasif berulang dapat meningkatkan stres fisiologis.

Risiko dan Komplikasi Flebotomi

Nyeri dan Respons Stres
Bayi dapat merasakan nyeri. Respons biologis terhadap nyeri meliputi peningkatan denyut jantung, perubahan pola napas, peningkatan hormon stres, dan tangisan berlebihan.

Anemia Iatrogenik
Pengambilan darah berulang dalam jumlah kecil dapat menyebabkan anemia iatrogenik, yaitu anemia akibat tindakan medis. Hal ini sering ditemukan pada bayi prematur yang menjalani pemeriksaan laboratorium berulang.

Hematoma dan Cedera Jaringan
Kesalahan teknik penusukan dapat menyebabkan perdarahan di bawah kulit (hematoma), bengkak, atau kerusakan jaringan sekitar.

Infeksi
Apabila prosedur aseptik tidak diterapkan dengan baik, mikroorganisme dapat masuk melalui area tusukan dan meningkatkan risiko infeksi.

Kesalahan Spesimen
Hemolisis (pecahnya sel darah merah) dapat terjadi bila teknik pengambilan tidak tepat. Sampel hemolisis dapat memengaruhi hasil pemeriksaan laboratorium, seperti kadar kalium atau enzim tertentu.

Upaya Pencegahan dan Flebotomi Aman
Untuk meminimalkan risiko, tenaga kesehatan perlu melakukan langkah berikut:
• Memastikan indikasi pemeriksaan benar-benar diperlukan
• Menggunakan volume sampel seminimal mungkin
• Memilih lokasi penusukan yang sesuai usia dan kondisi bayi
• Menggunakan alat steril berukuran tepat
• Melakukan teknik penusukan yang benar
• Mengurangi nyeri dengan metode non-farmakologis, seperti swaddling atau pemberian sukrosa oral sesuai indikasi
• Memantau area tusukan setelah tindakan
• Menggabungkan beberapa pemeriksaan dalam satu kali pengambilan bila memungkinkan

Peran Tenaga Kesehatan dan Orang Tua

Tenaga kesehatan memiliki tanggung jawab besar dalam menjaga keselamatan pasien bayi melalui keterampilan teknis, komunikasi yang baik, dan empati. Sementara itu, orang tua juga perlu memahami bahwa flebotomi dilakukan untuk tujuan medis penting, namun tetap harus dikerjakan dengan prinsip keselamatan pasien (Maharani & Marsubrin, n.d.)

Kesimpulan

Flebotomi pada neonatus dan bayi merupakan prosedur penting dalam pelayanan kesehatan, tetapi bukan tindakan yang dapat dianggap sepele. Dari sisi biologis, bayi memiliki volume darah terbatas, pembuluh darah kecil, dan sistem tubuh yang masih berkembang sehingga lebih rentan terhadap komplikasi. Dengan teknik yang benar, indikasi yang tepat, serta perhatian terhadap kenyamanan dan keselamatan pasien, flebotomi dapat dilakukan secara efektif sekaligus aman.

Lern more about Flebotomi Neonatus & Bayi:Teknik Aman serta Kesalahanyang Sering Terjadi

Referensi

Aryani, D. (n.d.). MODUL PRAKTIKUM FLEBOTOMI & TEKNIK SAMPLING.
Maharani, P., & Marsubrin, T. (n.d.). Skrining pada Bayi Prematur Sejak di Unit Perawatan Intensif Neonatal. November 2024, 265–273.
Üniversitesi, S. B., Eğitim, İ., & Sağlığı, Ç. (2020). Pretermlerde Eritrosit Transfüzyonu ile İlişkili Risk Faktörlerinin Değerlendirilmesi. 51(1), 9–13.
World Health Organization. WHO Guidelines on Drawing Blood: Best Practices in Phlebotomy. Geneva: WHO; 2010.
Widness JA. Pathophysiology of anemia during the neonatal period, including anemia of prematurity. Neoreviews. 2008;9(11):e520-e525.

Tulisan Kawan Praktisi lainnya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Postingan Rekomendasi