Skill Wajib yang Harus Dikuasai QA Farmasi

Banyak yang mengira menjadi QA di industri farmasi cukup bermodal ketelitian dan hafal regulasi. Kedua hal itu memang penting, tapi jauh dari cukup. Pekerjaan QA menuntut kombinasi antara kemampuan analitis, ketelitian teknis, dan kemampuan berkomunikasi lintas fungsi — karena keputusan yang diambil seorang QA (misalnya meluluskan atau menahan sebuah bets produk) berdampak langsung pada keselamatan pasien dan kelangsungan bisnis perusahaan. Artikel ini membahas skill-skill inti yang sebaiknya dikuasai siapa pun yang berkarier atau ingin berkarier di jalur QA farmasi.

1. Analytical Thinking (Kemampuan Berpikir Analitis)

Sebagian besar pekerjaan QA berputar di sekitar data: hasil pengujian, tren produksi, laporan deviasi, hingga data komplain pelanggan. Analytical thinking adalah kemampuan memecah data yang kompleks menjadi pola-pola yang bisa dipahami, lalu menarik kesimpulan yang tepat dari pola tersebut — bukan sekadar melihat angka satu per satu secara terpisah.

Skill ini paling terlihat perannya dalam proses seperti Batch Record Review dan Annual Product Quality Review (APQR), di mana seorang QA harus mampu membedakan mana variasi data yang wajar dan mana yang mengindikasikan masalah tersembunyi. Kemampuan ini biasanya berkembang melalui latihan membaca data statistik dasar, memahami konsep tren dan kapabilitas proses (seperti Cpk), serta terbiasa bertanya “kenapa” di balik setiap angka, bukan hanya mencatatnya.

2. Attention to Detail (Ketelitian terhadap Detail)

Ketelitian adalah skill yang paling sering disebut ketika membahas profesi QA, dan bukan tanpa alasan. Industri farmasi beroperasi di bawah pengawasan regulasi yang sangat ketat, di mana kesalahan sekecil apa pun — misalnya satu koreksi data tanpa paraf, atau satu parameter proses yang tidak tercatat — bisa berujung pada temuan kritikal saat audit, bahkan penundaan rilis produk. QA yang baik dikenal karena mampu menangkap ketidaksesuaian yang luput dari perhatian orang lain, sekaligus menjaga dokumentasi tetap rapi dan siap diaudit kapan pun.

Ketelitian ini bukan bakat bawaan semata, melainkan kebiasaan yang bisa dilatih — misalnya dengan membiasakan diri melakukan verifikasi silang (cross-check) antar sumber data, dan tidak terburu-buru menyimpulkan sesuatu “terlihat baik-baik saja” tanpa benar-benar menelusurinya.

3. Pemahaman Regulasi dan Sistem Mutu

QA tidak bisa bekerja tanpa memahami kerangka regulasi yang menjadi acuan pekerjaannya — baik itu CPOB, PIC/S GMP, ICH, maupun regulasi spesifik lain seperti GDP (Good Documentation Practice) dan GCP. Namun, pemahaman regulasi yang dimaksud di sini bukan sekadar hafal pasal, melainkan memahami tujuan di balik setiap ketentuan, sehingga QA bisa menerapkannya secara kontekstual — bukan menerapkannya secara kaku tanpa memahami esensinya.

Pemahaman ini juga mencakup kemampuan mengenali kapan suatu proses berada dalam kondisi terkendali (state of control) dan kapan situasi tersebut membutuhkan tindakan lebih lanjut, seperti investigasi atau revalidasi proses.

4. Komunikasi dan Kolaborasi Lintas Fungsi

QA jarang bekerja sendirian. Dalam praktiknya, seorang QA harus terus berkoordinasi dengan produksi, QC, RnD, hingga regulatory affairs — mulai dari meminta klarifikasi data, menjelaskan alasan suatu bets ditahan, sampai menyampaikan hasil investigasi kepada manajemen. Kemampuan menyampaikan temuan secara jelas dan persuasif, tanpa terdengar menyalahkan, adalah skill yang sama pentingnya dengan kemampuan teknis — karena QA sering berada di posisi yang harus “mengatakan tidak” kepada pihak lain demi menjaga standar mutu, tanpa merusak hubungan kerja lintas divisi.

5. Manajemen Risiko (Risk Management)

Tidak semua isu mutu memiliki tingkat urgensi yang sama, dan QA dituntut mampu memilah mana yang perlu ditangani segera dan mana yang bisa masuk dalam rencana perbaikan jangka menengah. Kemampuan ini erat kaitannya dengan pendekatan risk-based yang kini menjadi standar dalam sistem mutu modern (seperti yang tercermin dalam ICH Q9 tentang Quality Risk Management). Seorang QA yang baik mampu menilai dampak suatu penyimpangan terhadap keamanan dan efikasi produk, lalu memprioritaskan tindakan berdasarkan tingkat risiko tersebut — bukan menyamaratakan semua temuan dengan level penanganan yang sama.

6. Kemampuan Dokumentasi dan Pelaporan yang Jelas

Di industri farmasi, berlaku prinsip klasik: jika tidak didokumentasikan, dianggap tidak pernah dilakukan. QA harus mampu menuliskan hasil analisis, kesimpulan investigasi, atau rekomendasi tindak lanjut secara jelas dan terstruktur, sehingga bisa dipahami dan ditindaklanjuti oleh pihak lain — termasuk oleh auditor eksternal yang mungkin membaca dokumen tersebut bertahun-tahun kemudian. Kesimpulan seperti “proses berjalan dalam batas terkendali” tanpa disertai data pendukung yang jelas justru mencerminkan lemahnya skill ini, meski datanya sendiri sudah lengkap.

Kesimpulan

Menjadi QA yang kompeten bukan sekadar soal hafal regulasi atau rajin memberi tanda tangan. Dibutuhkan perpaduan antara kemampuan analitis, ketelitian, pemahaman regulasi yang kontekstual, komunikasi lintas fungsi, manajemen risiko, dan kemampuan dokumentasi yang jelas — semuanya saling menopang satu sama lain dalam menjalankan peran QA sehari-hari. Semakin kompleks tanggung jawab yang diemban (seperti batch record review dan APQR), semakin krusial pula penguasaan skill-skill ini secara menyeluruh, bukan sepotong-sepotong.

Ingin Mengasah Skill Ini Lewat Studi Kasus Nyata?

Kelas Annual Product Quality Review (APQR) & Batch Record Review: Practical Implementation in Pharmaceutical Industry dirancang untuk melatih langsung skill analitis, ketelitian, dan kemampuan menyusun kesimpulan yang actionable — dua kompetensi QA yang paling sering disebutkan di atas, sekaligus paling sering jadi titik lemah di lapangan.

📚 Info lengkap dan pendaftaran: Jadipraktisi.com – #UpgradeSkillPraktisi Kesehatan! 

Tulisan Kawan Praktisi lainnya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Postingan Rekomendasi